‘ARSITEK HIJAU’ TAMAN EDEN

27 Feb 2010

taman-eden-100

Bumi ini semakin panas !! Kutub akan meleleh ,banjir besar akan menenggelamkan dunia!! Isu-isu ini merupakan isu yang wajib menjadi perhatian mahkluk yang paling beradab di bumi..MANUSIA. Semua tragedi yang tadi disebutkan merupakan efek dari pemanasan dunia (kata kerennya global warming atau green house effect). Pada kenyataannya kebanyakan (malah hampir semuaa..) mahkluk yang paling beradab di dunia ini cuek bebek aja tuh..(kasihan banget tuh bebek di jadiin ikan cuek..??) Lihat saja hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia di babat buat perkebunan dan komersialisasi logging . Lahan hijau juga dipakai buat pembangunan kantor , bahkan ada yang buat separator bus. Yang pake roda dua dan roda empat semakin sesak dan menambah polusi yang mempercepat efek rumah kaca. Semua tadi sebenarnya sah-sah saja dengan alasan buat memenuhi kebutuhan manusia. Tapi bila penebasan alam hijau ,dan polusi yang bersumber dari manusia tidak terkontrol lagi , maka alam ini pun pasti akan bereaksi marah(bisa dibilang menghancurkan) terhadap apa yang dilakukan manusia.

Dari jendela dunia(Tv, Buku, internet,dll) yang saya lihat , jarang sekali ada manusia menjadi mahkluk yang beradab terhadap alamnya( mungkin saya juga termasuk juga ..). Bila pun ada yang beradab , mungkin manusia lain menganggap orang itu aneh , kurang kerjaan , pahlawan kesiangan , atau malah gila…Sehingga jarang sekali orang-orang yang sangat beradab terhadap alam mendapat ekspos media,menjadi terkenal ,bahkan menjadi selebritis. Salah satu manusia paling beradab terhadap alam yang pernah saya lihat dari jendela dunia ialah seorang Arsitek Hijau di Taman Eden , yaitu Bapak Marandus Sirait. Jaman sekarang ini banyak sekali arsitek yang merancang ‘pohon-pohon beton’ di kota-kota besar . Pada hakikatnya arsitek-arsitek pohon beton itu mempersembahkan karyanya buat kenyamanan hidup sesama manusia tapi tidak menghargai kenyamanan hidup mahkluk hidup lainnya. Berbeda dengan Marandus Sirait yang saya anggap sebagai ‘arsitek hijau’( hijau disini bukan berkonotasi lugu, belum berpengalaman, tapi merupakan warna yang mengandung konotasi sejuk, alam yang segar, dan rimbun), yang bisa mempersembahkan karya yang membuat nyaman manusia dan mahkluk hidup lainnya.

marandus-sirait

Sang ‘Arsitek Hijau’

Marandus Sirait merintis Taman Eden 100 ini untuk mengingatkan orang supaya terus menjaga dan melestarikan alam,karena TUHAN sudah menginstruksikan Adam dan Hawa untuk mengusahakan dan melestarikan bumi , maka kita sebagai penerus wajib untuk menjaga alam ini. Bertahun-tahun Marandus mengajarkan untuk menjaga alam kepada orang-orang melalui musik di sekolah tempat dia mengajar, maupun di gereja-gereja di sekitaran Danau Toba. Tapi Marandus merasa tak cukup hanya menganjurkan, jadi ia memutuskan memberi contoh nyata. Lalu ia pun mulai mewujudkan Taman Eden 100 ini pada tahun 1998 dengan harapan di tempat ini ada 100 jenis tanaman langka. Lahan yang dia pakai untuk membuat tanaman ini seluas 4o hektar milik keluarga besarnya, terletak desa Sionggang Utara sekitar 15 menit perjalanan dari seputaran pinggir Danau Toba. Tetapi untuk membangun taman ini tidaklah mudah , apalagi dana yang dimiliki Marandus sangat terbatas. Tak ada bantuan dari manapun , termasuk dari pemerintah daerah setempat . Denga keteguhan hati seorang Marandus lah Taman Eden ditanami pohon dan ditata dengan telaten. Bahkan semua penghasilan yang diterimanya sebagai guru musik digunakan untuk membangun Taman Eden . Walaupun sering sekali tak punya uang di kantong, dia tetap bisa membangun taman ini. Dibenak Marandus yang penting taman ini bisa mengajarkan arti pentingnya melestarikan alam.

TAMAN EDEN

Sekarang Taman Eden 100 mulai di kenal masyarakat. Taman seluas 40 hektar ini sudah ditanami oleh pohon-pohon yang di dominasi pohon khas Danau Toba seperti hariara,ingul, andaliman ,jabi-jabi, dll.Ada juga pohon yang lain seperti mangga, nangka, jambu,dll.Bahkan segerombolan monyet( bodat atau herek dalam bahasa Toba) asyik berloncatan di aman yang asri ini. Beberapa hotel di Parapat mulai sering membawa tamu ke sini, banyak juga sekolah atau instansi-instansi yang melakukan outbond di taman ini. Tapi kemuliaan hati Marandus membuat ia memberikan kebebasan kepada para pengunjung Taman Eden untuk menikmati taman tanpa di pungu bayaran , kecuali pengunjung mau menanam tanaman sendiri. Ya siapapun boleh menanam tanaman sendiridisini. Kalau bibit tanaman yang disediakan mau di tanam , pengunjung dikutip Rp.30 ribu per tanaman untuk biaya perawatan. Bahakan tanaman yang ditanam bisa dinamai sesuai penanamnya . Bila tanaman itu berbuah , itu bisa menjadi milik yang menanam tanaman tersebut. Ide menanam pohon seperti ini harusnya ditiru banyak pemerintah daerah yang lain , terutama di kota metropolis seperti Jakarta agar orang-orang bisa lebih mencintai alamnya


sli-jkt1

THINK GREEN

Saya sendiri mulai mencoba mengikuti inspirasi dari sang ‘arsitek hijau’ , walaupun lahan yang terbatas dan semakin sempit yang menjadi ganjalannya (maklum Jabodetabek makin sempit dan banyak hunian). Ya apalagi yang lebih baik dari memulai melakukan hal positif dari diri kita sendiri. Kalau manusia masih terus-terusan egois dan memikirkan diri sendiri,bagaimana nasib bumi ? maka besar harapan saya bahwa di masa mendatang nanti tidak ada lagi manusia yang cuek bebek sama isu global warming. Semoga teladan dari Marandus Sirait sang ‘ arsitek hijau’ Taman Eden bisa menjadi inspirasi buat kita untuk menjadi manusia yang Green Thinking dan menjadikan bumi kita sehat dan segar.




TAGS Inspirasi untuk Indonesia alam hijau SHARING


-

Author

Follow Me