Tugas Terakhir

7 Oct 2010

Ya TUHAN terima kasih telah memberiku waktu sejenak pagi ini tuk bercengkerama dengan putri kecilku. Gelak tawa riang dari bibir mungil putri kecilku karena sepotong tempe yang kumainkan kepadanya membuatku tetap semangat mencari segenggam rejeki untuk menafkahi keluargaku.

Aku memang biasa bekerja di antara bising dan macetnya jalanan ibukota. Cucuran peluh yang keluar dari tubuhku semuanya hanya demi anak istriku tercinta, yang selalu menantiku datang pulang dari tugas pekerjaanku. Tugasku sering tak dianggap oleh banyak orang, namun aku bangga dapat membantu banyak orang untuk dapat menjumpai keluarganya dirumah,juga membantu banyak orang menuju tempatnya mencari nafkah. Memang aku hanya seorang supir dari sebuah bus kecil di kota Jakarta.

kopaja

Pagi ini ku berangkat bertugas ditemani kondektur yang selalu setia menemaniku. Memang berat untuk sekedar mencari uang lebih dari sewa penumpang di bus tua ini.. Uang setoran sebesar 220 ribu terkadang tak dapat ku bayarkan sehingga kerap menombok ke pool. Namun aku tetap terus berjuang dan berdoa, karena soal rejeki yang ku dapat semuanya ku percaya atas kehendakNYA.

Memang pagi ini rejeki tak pergi kemana. Ada sekelompok pemuda ingin menyewa bus ini. Mungkin mereka ingin berdemo kepada pemerintah atas ketidakadilan yang sering merugikan rakyat kecil seperti aku. Ku suruh kenek bernegoisasi harga carteran. Kenek ku yang handal berhasil membujuk para pemuda membayar sewa 400 ribu untuk biaya carter. Terima kasih TUHAN telah berikan aku rejeki 2 kali lipat melebihi uang setoran sepagi ini.

Sepanjang perjalanan menuju tempat demo sekilas aku mendengar para pemuda ini membicarakan tentang terbunuhnya kawan mereka. Mungkin mereka ingin berdemo kepada petugas dan pejabat untuk mendapatkan keadilan. Akhirnya busku sampai ke tempat yang dituju dan ternyata sebuah gedung Pengadilan Negeri.. Ku parkir bus di pinggir jalan dekat gedung pengadilan dan aku duduk di dalam bus sambil menunggu para pemuda itu kembali. Tak berapa lama tiba-tiba ku lihat para pemuda yang tadi menumpang di bus lari berhamburan dari arah gedung pengadilan ke arah tempat busku parkir. Namun mereka tidak naik ke dalam bus malah berlari menjauh. Masih bingung dengan apa yang terjadi tiba tiba beberapa pemuda yang seingatku tadi tidak ikut menumpang sewa masuk ke dalam bus sambil mencaci maki dan membawa parang. Setelah itu yang dapat ku ingat hanyalah gelak tawa putri kecilku pagi ini, senyum istri dan putri sulungku,teriakan kenekku, bus kota antikku, lalu gelapgelapdan gelap…

In Memoriam Ompung Saefudin yang gugur saat bertugas sewaktu menunggu sewanya di jalan Ampera .Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran.

STOP KEKERASAN DI BUMI TERCINTA

foto : from 1sty.multiply.com


TAGS my mind


-

Author

Follow Me