Social Media Menjadi Kekuatan Penggerak Perubahan

13 May 2011

Semalam saya berkesempatan hadir menonton film Linima(s)sa di Goethe Haus. Film dokumenter yang diproduksi oleh tim internet sehat ini mengisahkan betapa dahsyatnya social media mengubah sesuatu.

Kisah pertama dalam film Linimas(s)a menceritakan tentang seorang tukang becak bernama Blasius Haryadi yang secara optimal menggunakan social media sebagai sarana promosi profesinya sebagai tukang becak. Blasius seorang bapak dari tiga orang anak dan juga single parent,istrinya meninggal saat Gempa Yogya tahun 2006 silam. Blasius sudah mengenal internet sejak tahun 1997 setelah diajari seorang penumpang becak dari Amerika. Namun dia baru mengerti membuat akun Facebook beberapa tahun silam .Blasius sangat miris dengan pendapatannya yang semakin berkurang sebagai tukang becak,akibat semakin bertambahnya orang yang menggunakan sepeda motor. Tetapi karena Blasius seorang yang berpikir visioner,ia mulai rajin menggunakan Facebook sebagai alat mencari pelanggan becaknya. Dengan akunnya Harry van Yogya,Blasius gencar berpromosi lewat Facebook tentang tempat wisata di Yogya dan juga alamat-alamat hotel yang bagus kepada teman-teman orang asingnya di Facebook. Kegigihan Blasius berpromosi di FB mulai membuahkan hasil,semakin banyak orang asing yang ingin datang ke Yogya,tentunya para turis itu ingin berkeliling Yogya menggunakan jasa panduan dari Blasius. Kisah cerita Blasius mengundang perhatian beberapa media.Dari sini beberapa orang menyarankan Blasius untuk menulis apa yang terjadi sehari-hari dalam kehidupannya sebagai seorang tukang becak gaul’.Sekarang Blasius sudah menerbitkan sebuah buku yang berjudul ‘Becak Way’. Kini Blausius sering diundang wawancara oleh TV nasional.

219069_10150179323599906_848694905_6724639_5665715_o

Dalam film Linimas(s)a ditampilkan pula cerita tentang beberapa orang hebat yang secara optimal menggunakan social media,seperti Komunitas Bengawan Solo yang dipunggawai @Blontankpoer, lalu ada juga @bloodforIndonesia yang begitu gigih mencari pendonor darah bagi orang-orang yang sangat membutuhkan darah. Ada juga relawan bencana Merapi @JalinMerapi ,yang secara luar biasa mengumpulkan 6000 nasi bungkus buat korban bencana hanya dalam jangka beberapa jam.Hal luar biasa ini bisa terjadi hanya gara-gara sebuah tweet di twitter @JalinMerapi.

Dalam Linimas(s)a ditayangkan juga bagaimana social media bisa sebagai senjata yang ampuh untuk melawan ketidakadilan. Ini bisa kita lihat pada kasus Prita Mulyasari dan kasus pimpinan KPK Bibit-Chandra. Sebuah gerakan sosial mendukung Prita dan Bibit-Chandra dari pengguna social media bisa mengalahkan keputusan yang tidak adil dalam hukum Indonesia.

BACA JUGA:

foto: Taken from Harry Van Yogya collection


TAGS Inspirasi untuk Indonesia SHARING journey social media


-

Author

Follow Me