Membangun ‘Rumah’ Kehidupan

30 Sep 2011

1305613090_204298249_1-gambar-jasa-tukang-bangunan

Beberapa hari lalu saya berkunjung ke blog teman.Pada sebuah artikel di blog teman tersebut ada sebuah cerita bagaimana dia merasa bersalah dan sedih karena selama merantau ke Jakarta ,dia belum menjadi apa-apa,belum bisa membahagiakan orang tua dan kerabatnya.Entah cerita temanku ini fiksi atau tidak,yang pasti ceritanya itu seperti menampar perasaanku,seakan menguliti realita hidup saya yang bisa dibilang masih ‘abu-abu’ selama merantau di Jakarta.

Pada suatu titik perjalanan waktu saya terkejut mendapati apa yang telah saya lakukan,dan menemukan kenyataan diri bahwa saya hidup di dalam sebuah ‘rumah’ yang saya ciptakan sendiri. Ternyata saya bukanlah siapa-siapa,belum menjadi apapun. Kenyataan ini saya dapati saat berkontemplasi membandingkan diri sendiri dengan keadaan hidup eks teman sekolah,eks teman kuliah,rekan sekerja,mantan rekan sekerja,kerabat,hingga mantan teman satu kost. Saya baru menyadari terlalu banyakjalan zig zag yang saya lalui.Seandainya saya menjalani hidup dengan cara yang berbeda…..Ahh,saya tak akan lama bermuram diri,hidup harus tetap melangkah !!! Saya teringat pada sebuah cerita yang pernah saya baca,saya sudah lupa dimana saya baca cerita ini,namun saya ingat kisahnya…


Seorang tukang bangunan senior bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Tukang bangunan tersebut menyampaikan keinginannya pada pemilik perusahaan. Pemilik perusahaan merasa sedih akan kehilangan salah seorang karyawan terbaiknya. Pemilik perusahaan kemudian memohon kepada si tukang bangunan senior itu untuk membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya di perusahaan real estate tersebut.

Tukang bangunan menyetujui permohonan pemilik perusahaan itu.Tapi sebenarnya tukang bangunan itu merasa malas karena otaknya sudah berpikir ingin cepa-cepat pensiun,sehingga ia mengerjakan bangunan rumah itu dengan tidak sepenuh hati. Dengan ogah-ogahan tukang itu mengerjakan proyek bangunan rumah. Tukang itu hanya menggunakan bahan-bahan bangunan ala kadarnya.

Akhirnya selesailah bangunan rumah yang diminta oleh pemilik perusahaan itu,tapi hasil bangunan rumah itu tidak baik atau tidak sesuai standar seperti biasanya. Pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya,lalu tiba-tiba pemilik perusahaan itu menyerahkan sebuah kunci rumah dan sertifikat rumah kepada si tukang banguna senior. Pemilik perusahaan itu berkata,”Ini,ambillah kunci dan sertifikat rumah ini.Ini adalah rumahmu!Saya memberikan rumah ini buat bapak,hadiah dari perusahaan…”

Betapa terkejut si tukang bangunan senior.Betapa menyesalnya dia.Seandainya saja ia tahu bahwa ia mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri,tentyu ia akan mengerjakannya dengan cara yang maksimal. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Cerita diatas adalah simbol perjalanan hidup kita. Kadangkala,banyak dari kita yang lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan sesuatu yang terbaik.Bahkan pada bagian-bagian terpenting dalam hidup,kita tidak memberikan yang terbaik.Karena itu biarlah dalam kehidupan,kita mengerjakan sesuatu dengan sikap hati dan motivasi yang benar,tidak ogah-ogahan,sehingga hasilnya pun akan maksimal dan memuaskan.


TAGS It's My Life my mind


-

Author

Follow Me