Kebanggaan Berbahasa Indonesia dan Kreatifitas Seni yang Beradab di Gempita Bulan Bahasa 2011

9 Nov 2011

“Luar biasa”,”Bangga jadi orang Indonesia”,”Keren”,”Indahnya kebudayaan Indonesia”,”Memukau”,”Kolaborasi hebat puisi dan musik”. Itulah beberapa pernyataan apresiatif yang terlontar dari hadirin Gempita Bulan Bahasa 2011.

Gempita Bulan Bahasa 2011 berlangsung pada 4 November di Komplek Aryawidura Indraprasta Bogor. Yang mengadakan acara ini Rumah Kata Bogor. Acara Gempita Bulan Bahasa diadakan untuk menumbuhkan kembali rasa cinta berbahasa Indonesia,dan juga membangkitkan kembali kreatifitas seni yang beradab. Gempita Bulan Bahasa dibagi atas 2 sesi acara,yaitu klinik bahasa dan klinik musik.Narasumber acara Gempita Bulan Bahasa tidak tanggung-tanggung nama besarnya,ada penyair dan sastrawan Khrisna Pabichara,Zen Hae,ada penulis wikimedia dan pemerhati bahasa Indonesia Ivan Lanin,dan juga ada legenda Jazz Indonesia,Idang Rasjidi.

Cinta dan Bangga Bahasa Indonesia

Acara Gempita Bulan Bahasa dibuka dengan penampilan marawis dari remaja Pesantren Daarul Uluum. Harmoni merdu yang dikumandangkan remaja-remaja Daarul Uluum membuat penonton sorai memberikan tepuk tangan. Kemudian,ketua acara Gempita Bulan Bahasa Erha Limanov menyampaikan kata sambutan. Dalam kata sambutannya Limanov mengatakan bahwa bangsa yang beradab adalah bangsa yang mencintai dan menghargai bahasa dan kesenian tradisionalnya.

Harmoni merdu Marawis remaja Pesantren Daarul Uluum

Harmoni merdu Marawis remaja Pesantren Daarul Uluum

Kata sambutan Erha Limanov (ketua acara GBB 2011)

Kata sambutan Erha Limanov (ketua acara GBB 2011)

Sesi klinik bahasa dimulai dengan kehadiran Khrisna Pabichara sebagai narasumber. Beliau membuka sesi klinik bahasa dengan membuat kuis kepada peserta tentang pengetahuan kaidah bahasa Indonesia. Sontak hadirin yang berada di lokasi acara Gempita Bulan Bahasa berebut menjawab pertanyaan yang diberikan Khrisna Pabichara. Ternyata pengetahuan hadirin Gempita Bulan Bahasa tentang kaidah bahasa Indonesia cukup baik. Mereka yang berhasil menjawab benar pertanyaan Khrisna Pabichara,mendapat kenang-kenangan hadiah dari sponsor.

Khrisna Pabichara kemudian memaparkan kegundahannya melihat kecintaan orang Indonesia terhadap bahasa Indonesia semakin luntur. Beliau bertanya kepada hadirin,ada berapa orang diantara hadirin yang mempunyai kamus bahasa Indonesia di rumah,dan ada berapa orang pula yang mempunyai kamus bahasa asing di rumah. Ternyata persentase perbandingan orang yang mempunyai kamus bahasa asing di rumah lebih banyak daripada persentase orang yang mempunyai kamus bahasa Indonesia di rumah. Khrisna Pabichara juga mengungkapkan kegundahannya melihat fenomena penggunaan bahasa alay yang kerap digunakan di jejaring media sosial. Menurut penulis buku laris ‘ Mengawini Ibu’ ini,muasal kesalahan berbahasa Indonesia disebabkan oleh 3 faktor utama,yaitu orang Indonesia menganggap berbahasa Indonesia yang benar tidak penting,tidak tahu ejaan yang disempurnakan,dan orang Indonesia mudah terpengaruh dengan ungkapan-ungkapan bahasa asing. Padahal bahasa Indonesia memiliki peranan dan fungsi yang sangat penting terhadap Indonesia. Bahasa Indonesia adalah lambang kebanggaan kebangsaan,mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional,sebagai alat perhubungan antar warga,antar daerah dan antar suku.Pada akhir sesi klinik bahasa,Khrisna Pabichara berpesan dan mengajak hadirin Gempita Bulan Bahasa untuk lebih aktif menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Krishna Pabichara berbicara di klinik bahasa

Krishna Pabichara berbicara di klinik bahasa

Selesai Khrisna Pabichara berbicara,tampil Teater Sada Bumi pimpinan Jibal mementaskan drama teatrikal yang menceritakan kegundahan akan situasi Indonesia yang carut-marut karena kerakusan manusia yang serakah. Hadirin Gempita Bulan Bahasa dengan meriah memberikan tepuk tangan kepada Teater Sada Bumi yang tampil ekspresif. Teater Sada Bumi sendiri kebanyakan pemainnya adalah anak-anak muda yang baru pertama kali tampil mementaskan drama teatrikal di panggung.

334413_302201796474789_100000549141526_1161369_203496286_o

Teater Bumi Sada

332598_302201049808197_100000549141526_1161368_394963356_o

Teater Bumi Sada tampil ekspresif menggelorakan cinta Indonesia

Narasumber berikutnya adalah Ivan Lanin,seorang penggiat Wikimedia. Ivan Lanin memaparkan kecenderungan-kecenderungan orang Indonesia di dunia maya. Menurut data yang dimiliki Ivan Lanin,semakin banyak orang Indonesia yang menggunakan internet. Pengguna Facebook di Indonesia nomor 2 di dunia(data socialbaker.com per November 2011),penetrasi Twitter di Indonesia nomor 4 di dunia(data comscore.com per April 2011),artikel bahasa Indonesia di Wikimedia merupakan terbanyak nomor 22 di dunia,dan jumlah blog di Indonesia berkembang pesat dari 300 ribuan pada 2007 menjadi 4,8 juta blog ditahun 2011 ini. Namun perkembangan pesat pengguna internet di Indonesia tidak diimbangi dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik di internet. Hal ini disebabkan oleh keterampilan bahasa Indonesia yang kurang, dan pengaruh bahasa Indonesia-Inggris (Indolish) yang semakin terasa. Ivan Lanin berujar bahwa seharusnya orang Indonesia harus lebih cinta dan aktif menggunakan bahasa Indonesia yang baik,karena bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu dan penghubung,lambang identitas dan kebanggaan nasional. Bahasa Indonesia juga mudah dipelajari karena bahsa Indonesia menggunakan alfabet Latin,memiliki autran pembentukan kata yang sederhana,tidak berubah bentuk kata karena waktu(tenses) dan gender,tidak memiliki pembedaan makna karena perbedaan tekanan nada,dan juga memiliki pelafalan yang konsisiten.Narasumber berikutnya yaitu Zen Hae dari Dewan Kesenian Jakarta. Beliau memaparkan sejarah penggunaan bahasa Indonesia dalam kanon-kanon kesusasteraan Melayu kuno. Mengakhiri sesi klinik bahasa,Zen Hae berpesan kepada hadirin,bila memungkinkan tetaplah menggunakan padanan bahasa Indonesia yang benar saat menulis.

Ivan Lanin sedang menyampaikan materi klinik bahasa

Ivan Lanin sedang menyampaikan materi klinik bahasa

Zen Hae sedang menyampaikan materi klinik bahasa

Zen Hae sedang menyampaikan materi klinik bahasa

Kreatifitas Berkesenian yang Beradab

Selesai sesi klinik bahasa,acara rehat sejenak untuk memberikan kesempatan kepada peserta Gempita Bulan Bahasa melaksanakan sholat Maghrib dan juga istirahat. Panitia Gempita Bulan Bahasa(GBB) dengan baik hati menggratiskan semua makanan yang dijajakan pedagang di sekeliling lokasi acara kepada hadirin GBB.

Selepas Maghrib,acara kembali dimulai. Panggung dimeriahkan oleh penampilan grup kesenian tradisional Calung Grobogan pimpinan Abah Acun. Penampilan kocak grup calung ini sukses mengocok perut hadirin. Mereka dengan lihai meniru gaya Ariel Peter Pan,Ayu Ting Ting,bahkan meniru 7 Icon. Walau bahasa Sunda yang digunakan oleh grup calung ini tidak dipahami jelas oleh beberapa hadirin disana,namun mimik muka dan gerakan slapstik yang ditampilkan grup Calung Grobogan ini sangat lucu dan menghibur. Banyak pesan-pesan moral yang disampaikan oleh mereka selama pementasan calung. Aplaus meriah diberikan penonton saat grup ini pamit turun dari panggung.

Penampilan menghibur grup Calung Grobogan Abah Acun

Penampilan menghibur grup Calung Grobogan Abah Acun

Lalu tampillah beberapa penyair membawakan puisi. Imam Arief membacakan puisi bertemakan kegundahan akan kondisi curat-marut Indonesia saat ini,dilatari oleh musik blues yang dinamis yang dimainkan oleh Mbak Vicky. Penyair wanita bernama Eka tampil ekspresif dan emosional,membuat hadirin termenung mendengar puisinya tentang pencarian akan TUHAN. Penampilan spesial pembacaan puisi dari seorang polisi bernama Abah Zoen,mengundang tepuk tangan membahana dari penonton. Penampilan spesial pembacaan puisi oleh artis terkenal Feni Rose,menambah manis rangkaian pementasan puisi. Feni Rose secara manis membaca puisi berjudul ‘Peri yang Terus Menanti Selendangnya’ karya Krishna Pabichara.

303720_304758972869104_100000050100898_1284391_1222950534_n

Abah Zoer membaca puisi dengan mantap

310287_304759286202406_100000050100898_1284394_1346592125_n

Feni Rose dengan manis membaca puisi 'Peri yang Terus Mencari Selendangnya'

Imam Arief berapi-api membacakan puisi

Imam Arief berapi-api membacakan puisi

Legenda jazz Indonesia Idang Rasjidi tampil di sesi terakhir klinik musik. Sebelum beliau tampil memainkan instrumen jazz,dia berorasi tentang filosofi dan pengalaman hidupnya. Idang Rasjidi mengaku merasa kesal dengan perilaku hidup kebanyakan orang Indonesia saat ini,yang merasa paling benar sendiri,merasa ingin didengarkan oleh orang lain,padahal tak pernah menyimak dan menghargai pendapat orang lain. Idang Rasjidi juga mengkritik para selebritis yang ‘menjual’ kesenimannya. Idang Rasjidi juga berkata bahwa seniman itu harus lebih beradab dalam berkreatifitas,tidak sekedar mengikuti arus komersialisme. Idang Rasjidi mengaku setia menggeluti jazz,karena bagi dia musik jazz adalah kebebasan,melalui jazz dia bisa berimprovisasi dalam bermusik.

Sekitar dua jam lebih,Idang Rasjidi memukau hadirin Gempita Bulan Bahasa. Kolaborasi spontan dengan penyair sekelas Erha Limanov dan Khrisna Pabicara,menghasilkan musikalisasi puisi yang sulit untuk dilupakan dalam memori manis saya. Kolaborasi Idang Rasjidi dengan penyanyi opera Sastrani Dewanti,membuat decak kagum seluruh penonton disana. Salah satu penampilan duet Idang Rasjidi dan Sastrani Dewanti yang paling saya kagumi dan membuat mata saya berkaca-kaca pada lagu syahdu ‘Somewhere Over The Rainbow’,lagu lawas dari film musikal ‘Wizard of Oz’,yang kebetulan juga salah satu lagu favorit saya(lagu ini salah satu lagu kesayangan almarhum ayah saya,sering diputar oleh ayah waktu saya masih kecil)

385248_304768392868162_100000050100898_1284420_1792656272_n

Kolaborasi spektakuler Erha Limanov,Sastrani Dewanti,Idang Rasjidi

Penampilan Syahdu Sastrani menyanyikan 'Somewhere Over The Rainbow'

Penampilan Syahdu Sastrani menyanyikan 'Somewhere Over The Rainbow'

Gempita Bulan Bahasa,Terobosan Modern Mencintai Bahasa dan Seni

Jumlah hadirin yang menyaksikan acara Gempita Bulan Bahasa 2011 cukup banyak,ada sekitar 200 orang. Berbagai kalangan,ada guru,pelajar,aktivis seni,blogger,pekerja media,polisi,hingga artis datang ke acara Gempita Bulan Bahasa.Yang datang ke acara Gempita Bulan Bahasa 2011 pun bukan hanya dari Bogor saja,ada yang datang dari Jakarta,Bekasi,Depok,bahkan ada yang datang dari Semarang. Acara Gempita Bulan Bahasa ini bisa dinikmati juga oleh mereka yang tidak hadir di Aryawidura Indraprasta. Selama penyelenggaraan acara Gempita Bulan Bahasa,pemakai jejaring sosial bisa menikmati rangkaian acara di linimasa Twitter,dengan melihat twit berhashtag #GBB dan #Indosat4Indonesia. Dengan penggunaan maksimal aplikasi modern,semangat cinta bahasa Indonesia di Gempita Bulan Bahasa 2011 tidak hanya bergaung di Bogor saja,tetapi semangat cinta bahasa Indonesia bisa dilihat oleh seluruh dunia melalui media sosial. Panitia Gempita Bulan Bahasa hebat,sudah berpikir modern dalam mempromosikan acara ini.

Saya pribadi mendapat banyak manfaat langsung mengikuti acara Gempita Bulan Bahasa 2011. Selain pengetahuan yang bertambah akan khasanah bahasa Indonesia,juga membuat jiwa seni saya yang selama ini membeku karena rutinitas sehari-hari,kembali menggelora. Ini saya tuangkan dalam puisi yang saya tulis beberapa jam setelah acara Gempita Bulan Bahasa 2011 berakhir. Puisi terbaru saya ini,saya beri judul ‘Sukma Dibelai Rumah Kata’

390902_304750929536575_100000050100898_1284372_1129271887_n

Senangnya bisa dapat hadiah dan berfoto dengan Legenda Jazz Idang Rasjidi

Foto: Dokumen Pribadi+Dokumen oom Rudi Gint


TAGS Inspirasi untuk Indonesia puisi SHARING Jayalah Indonesia Indonesia Bangkit Gempita Bulan Bahasa 2011


-

Author

Follow Me