Fenomena Kata Makian dalam Film

12 May 2012

konflik2

Pemakaian kata makian ‘fuck” paling sering dipakai pada film produksi Amerika. Dari hasil penelitian pemerhati film,pemakaian kata ini pertama kali muncul dalam film Ulysses dan I’ll Never Forget What’s Is Name di tahun 1967. Setelah tahun 1978, pemakaian kata ‘fuck’ semakin sering. Rekor paling banyak dalam pengunaan kata ini dipegang oleh film yang mengunakan judul dengan kata yang sama-Fuck- di tahun 2005. Dari durasi 93 menit di film ini,kata jorok itu terucap sebanyak 824 kali.

Kata ‘fuck’ ternyata mempunyai sejarah yang panjang. Diperkirakan penggunaan kata ini dengan arti hubungan seksual,pertama kali terdapat pada buku ‘Flen Flyys’ yang ditulis tahun 1475. Tetapi ada temuan yang lain lagi mengenai awal mula pengunaan kata ‘fuck’. Pada jaman dahulu kala di kerajaan Inggris,penduduknya tidak boleh melakukan hubungan seksual tanpa ijin kepada pihak kerajaan. Setelah itu pihak kerajaan akan memberikan tanda/kartu untuk digantung di pintu pasangan yang meminta ijin melakukan hubungan seksual. Tanda tersebut bertuliskan ‘Fornication Under Consent of the King’,disingkat menjadi F.U.C.K yang berarti ‘hubungan intim telah mendapatkan ijin dari raja’. Sejak itu kata ‘fuck’ berarti hubungan intim.

Di Indonesia,dalam beberapa film dan sinetron ada dialognya yang berisi kata-kata tergolong kasar dan cabul. Sayang,belum ada penelitian serius tentang pemakaian kata makian dalam film dan sinetron Indonesia.Salah satu contoh yakni film Bidadari Jakarta yang paling tidaka ada 5 kali ucapan kata “ngen***”

Pemakaian kata-kata kasar untuk memaki atau mengumpatsering ditemukan dalam film atau sinetron Indonesiaseperti: bajingan,bodoh,goblog,tolol,babi,monyet,curut,tahi . Demikian pula dengan kata-kata umpatan seperti: pelacur,sundel,dasar perek,tua bangka,hidung pesek.

Ada tiga pendapat yang berkembang dalam masyarakat melihat fenomena pemakaian kata makian tersebut di dalam film dan sinetron. Pendapat pertama,pemakaian kata makian itu sudah biasa terjadi di masyarakat untuk menumpahkan kekesalan,kejengkelan atau kemarahan. Pendapat kedua berpendapat bahwa kata-kata seperti itu tidak pantas untuk ditayangkan dan didengar oleh penonton film atau sinetron. Pendapat ketiga menyatakan jika menggunakan bahasa yang baik dan benar,film atau sinetron tidak akan laku,karena dengan hadirnya kata-kata seperti itu akan menarik minat penonton khususnya bagi kalangan remaja.

Fenomena Kata Makian Di Jaman Modern

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,kata ‘maki’ berarti mengeluarkan kata-kata atau ucapan keji(kotor,kasar,dsb) sebagai pelampiasan kemarahan atau rasa jengkel. Ada beberapa kata lain yang berpadanan dengan kata ‘makian’,yakni: cacian,cercaan,semprotan,sumpah serapah,umpatan. Dalam bahasa Inggris ‘makian’ disebut sebagai ’swear word’.

Kata-kata makian pada dasarnya tidak elok diucapkan oleh orang yang tidak marah,bahkan yang menggunakan kata-kata makian dalam kondisi marah sekalipun,si pengucap akan dinilai sebagai orang yang tidak beretika,tidak tahu adat, dan tidak tahu sopan santun.

Dari hasil penelitian peneliti bahasa Wijana dan Rohmadi(2007),diketahui bahwa sumber kata makian dapat digolongkan dalam beberapa model. Pertama,kata makian yang bersumber dari keadaan.Misalnya berasal dari gambaran keadaan mental seseorang,misalnya: sinting,bodoh,tolol. Juga keadaan pada perisitiwa yang tidak meyenangkan,misalnya:sialan,modar. Juga keadaan mengekspresikan keterkejutan,keheranan,atau kekaguman,misalnya: brengsek,gila,celaka.

Golongan kedua,kata makian yang bersumber dari binatang tertentu,misalnya: monyet,anjing,babi,bangsat. Golongan ketiga,kata makian yang bersumber dari mahkluk halus,misalnya: setan alas,iblis. Golongan keempat,kata makian dari nama benda tertentu yang berkonotasi jorok,misalnya: tahi,tahi kucing,tokai. Golongan kelima,kata makian yang bersumber dari bagian tubuh,misalnya: matamu,otakmu,dengkulmu. Golongan keenam,kata makian yang bersumber dari kekerabatan,misalnya: anak haram,kakek moyangmu. Golongan ketujuh,kata makian yang bersumber dari aktifitas manusia,misalnya: ngen***, nge**. Golongan kedelapan,kata makian yang bersumber dari profesi seseorang,misalnya: perek,sundal,cabo.

Jaman sekarang ada kecenderungan pemakaian kata makian semakin meningkat. Tidak jarang di dalam rumah tangga,jalanan,stadion,bandara,pasar,kampus,ruang pengadilan,bahkan ruangan sidang pemerintahan dengan entengnya seseorang mengucapkan kata makian karena berbagai sebab.

Dari hasil penelitian Intan Pusparini Siswoyo(mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Imu Budaya Universitas Dipenogoro),pemakaian kata makian tidak hanya terbatas pada saat seseorang dalam keadaan marah. Sebanyak 90 % responden menyatakan bahwa makian juga digunakan pada saat situasi santai dan akrab. Ada makian untuk mengungkapkan kekaguman,keheranan,dan bahkan bernada pujian. Melihat fenomena ini,maka kata makian akan menjadi bahasa sehari-hari dan meluncur dari mulut siapa saja,dimana saja,dan kapan saja, tanpa mengenal konteks yang dikandung makna aslinya. Sungguh memprihatinkan.

(Diolah dari sumber: Kajian Nunus Supardi-Kata Makian dalam Fim&Sinetron,LSF)


TAGS sejarah kata FUCK Kata-kata makian


-

Author

Follow Me