Kala Sang Surya Tenggelam

12 May 2012

87c676497480c1cc3765207480769a01_malam

Cerita ini adalah kelanjutan dari cerita ‘Stasiun Kota Senja Itu’ yang dituliskan oleh saudari @nilaayu dan cerita ‘Belalang Padang Ilalang’ yang dituliskan oleh saudara @wkf2010,yang merupakan bagian dari cerita berseri #3Penguasa grup 9. Kisah Kala Surya Tenggelam ini adalah cerita terakhir dari rangkaian cerita.

Penggalan cerita sebelumnya:

Kejam! Kejam sekali Ayah pemabuk itu berkata kepadamu. Padahal dia sendiri lebih keparat, menjual puterinya pada anak orang kaya agar bisa tetap mabuk-mabukan. Aku geram, aku merindukan kamu Fin.

Kulihat arloji di lengan kiri. Waktu telah menunjukkan pukul 21.05 WIB. Di kejauhan terlihat ujung belakang KRL tujuan Bogor. Jika Peyek menunggu sampai kereta terakhir, KRL yang sedang melaju itulah keretanya. Aku hanya bisa menatap kelu kereta yang semakin tak kelihatan ditelan gelap malam itu. Meski aku berdiri di peron stasiun, hatiku ada di dalam kereta, melaju menuju Kota Hujan bersamanya.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Kota Tua,5 Mei 2012, 21:25

Inggrid Wanda Amalia Kinasih Peyek berjalan gontai meninggalkan Stasiun Kota. Puluhan SMS yang dia kirim kepada Mafin tak kunjung terjawab.

“Fin,mengapa kau lupa dengan janjimu,” mata Inggrid berkaca-kaca meratapi nasibnya.

Tanpa arah tujuan,langkah kaki Inggrid menapaki jalan beraspal kawasan Kota Tua yang malam itu riuh dilatari para insan yang memadu cinta. Suasana di pelataran Museum Sejarah Kota Tua memang ramai setiap akhir pekan. Malam minggu semakin semarak malam itu dengan adanya pagelaran musik musisi asal Yogya yang memainkan lagu-lagu klasik Indonesia. Benak Inggrid hampa menatap keriuhan Kota Tua malam ini. Inggrid hanya terpikir tentang kisah cintanya dengan Mafin yang harus musnah malam ini. Saat melewati sebuah caffe yang terletak di samping Museum Wayang,seorang wanita berbaju putih dengan rambut diikat model ekor kuda,dengan mimik wajah lucu menawarkan menu kepada Inggrid.

” Mbak,mari mampir ke Caffe baru kami. Ada banyak menu spesial baru loh,ada Ice Cream Waffel,ada Mocchacino Big Uncle. Semua menu spesial kami, buatan koki yang datang khusus dari Singapore. Khusus malam ini,ada diskon buat mbak,” rayu pelayan wanita tadi kepada Inggrid.

Inggrid hanya tersenyum pahit kepada pelayan wanita itu.Saat melihat sosok pelayan wanita yang menawarinya menu,Inggrid seolah melihat sosok dirinya dahulu.Waktu itu ia sambil kuliah di Singapore,ia bekerja magang sebagai pelayan cafe. Pakaian kerja yang ia gunakan dulu, hampir sama persis dengan pakaian kerja yang dikenakan pelayan wanita yang menyapanya. Saat ia menjadi pelayan cafe di Singapore itulah ia berjumpa dengan Mafin.

Mata Inggrid melirik ke arah plang caffe ,ternyata nama caffe itu Muffin Kota Tua. Dengan perasaan campur aduk,akhirnya Inggrid memutuskan singgah ke caffe Muffin Kota Tua. Pelayan wanita yang tadi menyapanya,dengan cekatan mengantar Inggrid ke dalam caffe. Inggrid diantar ke sebuah meja caffe berkursi dua, yang terletak di sudut dalam area caffe.

“Sepertinya mbak sedang menunggu teman yah? Baiklah, silahkan lihat menu-menu kami dahulu. Kalau nanti mau pesan,silahkan panggil saya,” ucap pelayan wanita yang di papan namanya tertulis nama Kirana .

Desain interior caffe Muffin Kota Tua bergaya interior Belanda tempo dulu. Puluhan lukisan yang menggambarkan suasana kota Batavia tempo dulu dipajang di sekeliling arae caffe. Seorang pianis bergaya klimis tampak lincah memainkan tuts-tuts piano menghibur pengunjung caffe. Dengan gaya ceria sang pianis memainkan laguGeef Mij Mar Nasi Goreng’ yang dalam sekilas pendengaran Inggrid berlirik kocak. Setelah menyanyikan lagu ‘Geef Mij Mar Nasi Goreng’,sang pianis mempersilahkan pengunjung yang ada di dalam caffe untuk me-request lagu. Beberapa saat kemudian sang pianis bersiap melantunkan lagu lainnya.

“Baiklah,saya akan menyanyikan lagu “Kala Sang Surya Tenggelam’ yang direquest oleh mas Mafin..waw nama mas betul Mafin? sangat spesial sekali…kebetulan nama mas mirip dengan nama caffe kita ini,Muffin Kota Tua”

“Mafin…apakah yang me-request lagu ini benar-benar Mafin?” Inggrid terperanjat mendengar nama Muffin yang tadi diucapkan sang pianis

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Benak Mafin berkecamuk dengan kesedihan karena tidak berhasil menjumpai Inggrid. Padahal inilah kesempatan terakhirnya untuk bisa mereguk bahtera cinta bersama Inggrid. Mafin mengutuki kesialan yang dialaminya dalam perjalanan menjumpai Inggrid ke Stasiun Kota. Ponsel dan dompetnya raib digondol oleh pencopet terkutuk saat ia menaiki kereta menuju Stasiun Kota. Untung saja kartu ATMnya ada di kantong kemejanya karena sewaktu akan berangkat dari stasiun Depok,Mafin mengambil uang tunai dan enggan untuk menaruh kartu ATMnya ke dalam dompet. Dengan langkah gontai,Mafin berjalan menuju kawasan Kota Tua.Malam itu di kawasan Kota Tua semarak dengan adanya pagelaran musik musisi asal Yogya yang memainkan lagu-lagu klasik Indonesia. Benak Mafin hampa menatap keriuhan Kota Tua malam ini. Mafin hanya terpikir tentang kisah cintanya dengan Inggrid yang harus musnah malam ini. Saat melewati sebuah caffe yang terletak di samping Museum Wayang,seorang wanita berbaju putih dengan rambut diikat model ekor kud,dengan mimik wajah lucu menawarkan menu kepada Inggrid.

” Mas,mari mampir ke Caffe baru kami. Ada banyak menu spesial baru loh,ada Ice Cream Waffel,ada Mocchacino Big Uncle. Semua menu spesial kami, buatan koki yang datang khusus dari Singapore. Khusus malam ini,ada diskon buat mas,” rayu pelayan wanita tadi kepada Mafin.

Saat melihat sosok pelayan wanita yang menyapanya,Mafin seolah mengalami dejavu. Waktu itu ia jalan-jalan ke Singapore bonus dari tempatnya bekerja di perusahaan burger,disitulah ia bertemu dengan Inggrid yang waktu itu magang sebagai pelayan cafe. Pakaian kerja yang dipakai Inggrid dulu, hampir sama persis dengan pakaian kerja yang dikenakan pelayan wanita yang menyapanya itu.

Mata Mafin melirik ke arah plang caffe ,ternyata nama caffe itu Muffin Kota Tua. Sebuah kebetulan yang agak mengejutkan,nama caffe itu mirip dengan namanya. Dengan perasaan campur aduk,akhirnya Mafin memutuskan singgah ke caffe Muffin Kota Tua. Pelayan wanita yang tadi menyapanya,dengan cekatan mempersilahkan Mafin masuk ke dalam caffe. Maffin memilih untuk duduk di meja berkursi dua di dekat pintu masuk caffe.

Seorang pianis bergaya klimis tampak lincah memainkan tuts-tuts piano menghibur pengunjung caffe. Dengan gaya ceria sang pianis memainkan laguGeef Mij Mar Nasi Goreng’ yang dalam sekilas pendengaran Inggrid berlirik kocak. Setelah menyanyikan lagu ‘Geef Mij Mar Nasi Goreng’,sang pianis mempersilahkan pengunjung yang ada di dalam caffe untuk me-request lagu. Mafin yang sedang berkecamuk isi hatinya berusaha mengibur dirinya,ia menulis sebuah judul lagu di secarik kertas ,merequest lagu kepada sang pianis . Beberapa saat kemudian sang pianis bersiap melantunkan lagu.

“Baiklah,saya akan menyanyikan lagu “Kala Sang Surya Tenggelam’ yang direquest oleh mas Mafin..waw nama mas betul Mafin? sangat spesial sekali…kebetulan nama mas mirip dengan nama caffe kita ini,Muffin Kota Tua”

Surya tenggelam…
Ditelan kabut kelam
Senja nan muram…
Di hati remuk redam

Malam mencekam…
Rembulan sendu rawan
Anak perawan…
Menanggung rindu dendam

Jalan berliku dalam kehidupan
Dua remaja kehilangan
Penawar rindu kasih pujaan
Menempuh cobaan

Sewaktu sang pianis melantunkan lirik lagu ini,mata Mafin berkaca-kaca. Pikirannya mengwang-ngawang mengingat kisah indahnya dulu bersama Inggrid.

“Mafin….,” Mafin yang sedang termangu,terkejut mendengar suara teriakan yang memanggilnya. Suara itu sangat akrab di telinganya.

“Inggrid..,” sewaktu Mafin menoleh ke arah suara yang memanggil namanya,Mafin merasakan kebahagiaan yang luar biasa,Inggrid yang tadi sudah ia relakan untuk pergi selamanya kini ada di hadapannnya.Spontan Mafin langsung melompat dari duduknya dan langsung memeluk Inggrid. Pengunjung caffe,pelayan caffe,dan sang pianis hanya melihat bingung saat Mafin dan Inggrid berpelukan sambil menangis.

“Mafin,kamu harus janji jangan pergi meninggalkan aku lagi yah,” Inggrid berbisik ke telinga Mafin.

“Aku janji,sayang,aku akan memadu bahtera cinta bersamamu selamanya. Aku akan membawamu pergi jauh dari orang-orang yang menghalangi cinta kita,” mata Mafin menatap ke arah Inggrid dengan penuh bahagia

“Aku siap pergi bersamamu,Mafin,”

Malam itu juga Mafin dan Inggrid memutuskan meninggalkan kota Jakarta.Mereka pergi ke arah Lembang, menuju rumah sanak saudara Mafin yang ada disana. Mereka pergi ke Lembang naik bus malam ‘Sayonara’ dari terminal Lebak Bulus.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

6 Mei 2012

Surat kabar sore ramai memberitakan kecelakaan bus antar kota ‘Sayonara’ yang terjadi tengah malam tadi. Bus itu masuk ke dalam jurang dan semua penumpangnya ditemukan dala keadaan tewas. Di berbagai surat kabar,dituliskan daftar nama-nama penumpang yang menjadi korban kecelakaan bus ‘Sayonara’,dua nama tertera disitu,Mafin danInggrid Wanda Amalia Kinasih Peyek.

——- SELESAI ______


TAGS #RantaiCerita #3Penguasa


-

Author

Follow Me