Belajar Dari Kesuksesan Para Pemenang Di Gelanggang Olahraga

19 Aug 2013

Beberapa minggu terakhir saya rutin mengikuti perjalan tim sepakbola Indonesia yang mengikuti turnamen Homeless World Cup 2013 yang berlangsung di Poznan, Polandia. Pada akhirnya tim Indonesia menempati peringkat delapan turnamen ini. Homeless World Cup merupakan kompetisi sepak bola dunia bagi para tunawisma dan kaum termarginalkan, di antaranya para bekas pecandu narkotika dan pengidap HIV-AIDS. Turnamen itu mulai diselenggarakan pada 2003 dan didukung pemain sepak bola internasional, seperti Didier Drogba dan Rio Ferdinand.

ddf28e13851b8dcdb9be34401a3e6528_tim-indonesia

Jelas prestasi yang ditorehkan tim sepakbola Indonesia di turnamen Homeless World Cup 2013sangat membanggakan karena mampu bersaing dengan 63 negara lainnya. Mungkin hanya di turnamen ini Indonesia bisa mengalahkan tim Italia denga skor 10-2 di pertandingan resmi sepakbola.

Tim Indonesia telah tiga kali mengikuti turnamen Homeless World Cup. Pada tahun 2013 ini Indonesia mengirimkan delapan pemainnya, yaitu Ujang Yakub, Mifta Sano Sudrajat, Sendi, Ahmad Faizin, I Wayan Arya Renawa, Dimas Saputra Ramadan, Riki Irawan, dan Nico Pernando.

Sejarah awal tim Indonesia bisa sukses berpartisipasi mengikuti Homeless World Cup berawal dari kegigihan LSM nirlaba Rumah Cemara berangkat membawa panji Indonesia berkat dana swadaya dan bantuan dari masyarakat dan sejumlah swasta. Sewaktu tim Indonesia berhasil mengumpulkan dana untuk berangkat ke Paris, Perancis, guna mengikuti Homeless World Cup 2011. Kapten tim, Ginan Koesmayadie, berjalan kaki dari Bandung ke Jakarta menempuh jarak 215 kilometer sebagai bentuk rasa syukur. Selain sebagai nazar, aksi jalan kaki Ginan itu sebagai upaya dia menunjukkan kepada masyarakat bahwa HIV/AIDS tak mengurangi semangat dan kualitas hidup seperti orang normal.

Kini tim sepak bola Homeless Indonesia telah mendapat tempat di hati jutaan pencinta sepakbola karena kegigihan dan semangat juang mereka untuk membuat prestasi walaupun terkendala kekurangan dan kerap termarjinalisasi di masyarakat umum.

[divider]

Beberapa hari lalu, Indonesia juga dibuat bangga oleh prestasi dua pasang pemain yang menjadi juara dunia bulutangkis 2013, yaitu pasangan Lilyana Natsir/Tontowi Ahmad dan Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan. Kesuksesan dua ganda tadi berhasil melepas dahaga Indonesia selama enam tahun yang selalu gagal merebut juara dunia.

218dd33dccdeed494c76ab42641c5fcc_main-tantowi-lilyana2

Prestasi perbulutangkisan Indonesia mencapai titik nadir saat gagal meraih medali di Olimpiade London 2012. Setelah itu terjadi perubahan di susunan pengurus PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia). Para legenda bulu tangkis Indonesia seperti Rexy Maniaky, Susy Susanti, dan Ricky Subagja direkrut sebagai pengurus oleh ketua umum baru PBSI, Gita Wirjawan. Pembenahan sistem manajemen yang modern pun dilakukan oleh PBSi sejak akhir tahun lalu, yang akhirnya membuahkan hasil dua gelar juara dunia pada bulan Agustus ini.

Tontowi Ahmad sempat dikritik banyak pihak karena mentalnya yang belum tenang menghadapi pertandingan besar dengan tekanan berat serta tak sanggup menjadi tumpuan utama Indonesia untuk merebut juara. Bahkan saat Olimpiade 2012, Tontowi Ahmad sempat mengutarakan tak bisa tidur menjelang duel perebutan medali perunggu. Namun sepanjang tahun 2013 ini Tontowi Ahmad berhasil memperbaiki mental bertandingnya dan mampu menjadi juara dunia ganda campuran.

Sedangkan Lilyana Natsir telah menjadi legenda bulu tangkis Indonesia dengan raihan tiga gelar juara dunia yang didapatnya. Sebelumnya Lilyana Natsir telah dua kali menjadi juara bersama eks pasangannya, Nova Widianto. Perjuangan Lilyana Natsir meraih kesuksesan penuh pengorbanan. Lilyana telah meninggalkan bangku sekolah sejak usia 12 tahun demi tekad menjadi pemain berprestasi di dunia bulu tangkis.Kini tak ada seorang pun yang meragukan kehebatan permainan Lilyana Natsir.

Kita bisa belajar dari kesuksesan para pemenang di gelanggang olahraga yang saya jabarkan diatas. Bahwa kesuksesan itu perlu pengorbanan, kerja keras, manajemen diri dan juga membutuhkan kekuatan mental yang tangguh untuk meraihnya.


TAGS Indonesia Bangkit Juara Dunia Indonesia Ayo Indonesia Bisa


-

Author

Follow Me