Siapakah Yang Berani Buat Event Budaya Tradisional Parikan & Ludruk?

22 Jan 2014

Berbicara tentang Blogdetik, untuk mendapatkan postingan yang berkualitas kita tak boleh mengabaikan akun blog Cak Cholik yang dipunyai oleh salah-satu blogger tersohor di jagad Blogosphere Indonesia saat ini, Pakde Abdul Cholik yang akrab juga dikenal sebagai Komandan Blog Camp.

Akun blog Cak Cholik sangat populer di belantara Blogdetik pada saat ini, per tanggal 21 Januari saja, akun blog Cak Cholik menempati peringkat lima blog terpopuler yang menggunakan subdomain Blogdetik versi Alexa. Wajar saja blog Cak Cholik itu menjadi salah satu yang terpopuler di Blogdetik, karena 118 postingan di blog itu isinya sangat menarik untuk dibaca, terlepas postingan itu menceritakan hal serius atau hal remeh-temeh.

6e228aa7927344e4e36c5c3c4676185f_blogdetikcom-site-info

Akun Blog Cak Cholik juga berprestasi tinggi memenangi berbagai kontes blog bergengsi, salah satunya sebagai pemenang #30HariNonStopNgeblog dalam kategori “Blog Paling Menarik’.

Salah satu postingan dengan ’sentilan’ karya Cak Cholik yang menarik perhatian saya adalah postingan yang berjudul “Surabaya, Aku Rindu Ludrukmu” , yang dibuat per tanggal 23 Desember 2011. Bukannya tanpa alasan saya menilai postingan “Surabaya, Aku Rindu Ludrukmu” ini sangat menarik untuk dicarikan solusi riilnya, karena walaupun saya buka orang Surabaya, namun saya cukup miris memperhatikan bahwa nilai-nilai budaya tradisional di Indonesia saat ini mulai luntur terkepung oleh seni modern yang jauh dari akar budaya bangsa.

Dalam postingan “Surabaya, Aku Rindu Ludrukmu” , Cak Cholik memulai dengan satu parikan yang menarik seperti berikut:

Sawunggaling wayange kuno

Sing digawe kayune jati

Nek peno eling ndang sambangono

Ojok gawe gelani ati

.Esuk nyuling sore yo nyuling

Sulingane arek Suroboyo

Esuk eling sore yo eling

Sing di eling-eling ora rumongso

Parikan seperti di atas memang sudah sangat langka pada saat ini, seperti yang pernah saya tuangkan dalam tulisan blog ini yang berjudul “Sentilan Kondisi Sosial Dalam Parikan” per tanggal terbit 5 Maret 2012. Berikut sedikit kutipan dari postingan tersebut

Sebagai orang yang berasal dari Sumatera, selama ini saya mengenal dan mengetahui budaya berbalas pantun dari ragam suku di pulau Sumatera, misalnya pantun dari suku Melayu, suku Minang, suku Batak, dan suku Palembang. Di luar suku-suku di pulau Sumatera, saya hanya mengenal budaya berbalas pantun pada suku Betawi dan Sunda dari kesenian lenong dan calung grobogan yang pernah saya tonton. Pada suatu malam saat berselancar mencari berita ,saya mendapati sebuah kolom di sebelah kiri bawah halaman detik Surabaya. Lalu saya membuka kolom yang dinamai parikan.

Saya membaca beberapa parikan,dan segera paham bahwa parikan inimerupakan salah satu ragam pantun yang berasal dari Surabaya. Untuk lebih memahami apa ituparikan ,saya pun membuka Wikipedia. Menurut keterangan Wikipedia,parikan disebut juga kidungan adalah salah satu bagian dalam kesenian tradisional ludruk.Parikan tersebut harus sesuai kondisi-situasi sosial yang ada,dan spontanitas menempati porsi terbesar dalam parikan. Dan memang benar,setelah membaca beberapa parikan di detik Surabaya,saya mendapati sentilan-sentilan mengenai kondisi sosial dan juga pesan-pesan positif yang terkandung dalam parikan,beberapa diantaranya sebagai berikut:

  • Tuku Jipang Nang Pasar Keputran
    Jaran Kepang Wetenge Kelalaran
    Yen podo mangan ojo lali mbayar
  • Tuku Becak Menyang Jembatan Merah suroboyo
    Ojo Mbecak yen Ra klamben abang lan ngoyo
    Ayo Cak klamben abang mbangun suroboyo
    mbangun suroboyo iku apik

Namun saya melihat sudah cukup lama tidak ada orang yang berbalas parikan di kolom detik Surabaya,entah budaya parikan sudah tidak diminati lagi saat ini,atau memang budaya yang diminati saat ini adalah pantun menggalau di twitter!

Semoga saja budaya pantun parikan ini tetap terus diminati generasi muda sekarang,agar kekayaan budaya Indonesia tidak punah di masa mendatang.

Di tengah-tengah postingan “Surabaya, Aku Rindu Ludrukmu” Cak Cholik menuliskan keresahannya bahwa beliau merindukan menyaksikan pertunjukan ludruk yang kini seolah lenyap ditelan jaman.

Namun sayang seribu kali sayang. Kejayaan ludruk semakin lama semakin pudar. Jangankan di lingkup nasional, di wilayah Surabaya dan Jombang yang dulunya merupakan gudang ludruk kini jarang terdengar ada pentas ludruk. Sangat jarang orang yang mempunyai hajatan kini nanggap ludruk, mereka lebih senang menampilkan organ tunggal, dagdhutan atau kuda lumping. Di gedung kesenianpun kini langka melihat pentas ludruk. Sudah belasan tahun saya mencari dimana ada pentas ludruk, tetapi hingga kini belum saya ketemukan.

Pada akhir postingan Cak Cholik menuliskan seperti ini: “Haruskan aku mendirikan Ludruk dBlogger Budaya agar rindu ini terobati??”

Pertanyaan Cak Cholik di atas tadi pun membuat alam pikiran saya menanyakan ini, dan semoga ada orang hebat yang dapat menjawabnya dengan aksi, kalau bisa sih blogger yang mengadakan pertanyaan saya ini:
“Siapakah Yang Berani Buat Event Budaya Tradisional Parikan & Ludruk?..

d4ffa5192b0e964d0f059a206f08d0f0_4d7312bf02f8538d3639ada1cf189edb_wayang-orang

jawabannya… tanyakan saja kepada pelakon LUDRUK/ WAYANG yang kini semakin langka. Kamu berani main Ludrukan?


TAGS Parikan Sosial Budaya Parikan Suroboyo Budaya Tradisonal Indonesia Ludruk Budaya


-

Author

Follow Me