Secuil Kisah Pelestarian Mangrove di Pantai Pasir Perawan Jakarta

12 Sep 2014

Beberapa hari silam saya memiliki pengalaman baru bersama teman-teman baru di Pantai Pasir Perawan Jakarta. Selain menikmati keindahan panorama alam di sana, saya juga melakukan sedekah kepada alam dengan cara menanam Mangrove di sana bersama teman-teman serombongan.
——————————————-LINGKUNGAN HIDUP——————————–GENERASI MASA DEPAN———————

Beberapa bulan lalu sehabis kami pulang kampung bersama, saya dengan oom (abangnya mama), mengobrol serius santai mengenai kerusakan sungai di kampung halaman saya karena penebangan pohon yang tak terkendali di atas bukit. Karena penebangan pohon yang tek terkendali tersebut, saat terjadi hujan besar membuat air bah turun dari atas bukit yang membuat beberapa jembatan akses jalan ke kampung saya terputus.

Dalam pembicaraan dengan oom saya, beliau mengatakan bahwa dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, generasi muda masa kini bakal sangatcare dengan kerusakan lingkungan hidup yang telah mengancam kelangsungan hidup spesies manusia. Oom saya juga berujar bahwa Kementerian Lingkungan Hidup yang saat ini tak dianggap ataupun dipandang sebelah mata dalam struktur pemerintahan, 10–20 tahun mendatang bakal mendapatkan tempat terhormat dan selalu diminta pandangannya dalam pengambilan keputusan oleh pihak negara.

——————————————–CINTA—————————————ALAM———————————————————-

Dulu saya cukup aktif dalam berbagai kegiatan pecinta alam yang selalu beraksi dalam pelestarian lingkungan hidup, semisal menanam pohon atau kegiatan membersihkan sampah di alam, dan beberapa kegiatan diantaranya pernah saya ceritakan di blog ini. Namun, seiring semakin padatnya aktifitas sehari-hari, hampir beberapa tahun ini saya sudah tak lagi melakukan aktifitas nyata pelestarian lingkungan. Malahan saya menjadi salah satu polutan aktif yang mencemari udara di bumi, karena setiap hari saya melakukan aktifitas dengan kendaraan bermotor.

Sekitar sebulan yang lalu, saya melihat lini masa dan akun komunitas @KemangTeer yang concern dalam pelestarian Mangrove di Indonesia akan mengadakan acara tur bersama ke Pulau Pari, Kepulauan Seribu, yang terletak beberapa puluh Kilometer dari lepas pantai Jakarta. Saya mengenal komunitas @KemangTeer ini dalam event Social Media Festival tahun 2013 yang berlangsung di Fx Senayan.

KemangTeer Volunteer

KemangTeer Volunteer

Saya sempat mengajak beberapa sahabat dekat untuk mengikuti event tur Pulau Pari yang digagas@KemangTeer ini, namun mereka semuanya berhalangan hadir karena banyak acara yang tak bisa ditinggalkan,jadi akhirnya saya pun mendaftar sendirian dalam tur ini.

——————————WOLES———————————————————WIB———————————————

Para peserta tur ke Pulau Pari diharapkan bisa berkumpul bersama di daerah Muara Angke sekitar jam 6 pagi, karena rencananya kapal akan berangkat sekitar setengah tujuh. Karenanya saya pun sudah berangkat sejak subuh dari Bekasi menuju ke Muara Angke dengan menumpan taxi. Sialnya, salah satu akses jalan utama menuju Muara Angke ditutup karena sedang ada perbaikan jalan, sehingga taxi yang saya tumpangi terpaksa memutar arah melalui akses jalan lainnya.

Bau amis ikan pun menyeruak setibanya saya di Muara Angke. Ternyata kami akan berangkat ke Pulau Pari melalui dermaga lama tempat bersandarnya kapal-kapal ikan, bukan lewat dermaga baru Kali Adem. Ya saya woles saja, dengan situasi bau amis ini yang jarang-jarang saya hirup.

Kapal Kayu Muara Angke

Kapal Kayu Muara Angke

Sialnya, entah kenapa saat itu penumpang yang juga ingin berangkat ke Kepulauan Seribu dua kali lebih banyak dari yang normal (saya sebelumnya sudah dua kali ke Kepulauan Seribu lewat Muara Angke), jadi keberangkatan kapal pun molor hingga lewat jam delapan WIB (Waktu Indonesia Bingit… alias jam karet)

———————————————-PARI—————————————————-HOUSE———————————

Dengan ratusan penumpang lainnya, saya pun menikmati bersempit ria menikmati panorama laut di dalam kapal kayu bertingkat dua. Setelah melewati banyak pulau, diantaranya Pulau Bidadari, Pulau Onrust, Pulau Gosong, hampir dua jam kemudian, kami akhirnya tiba di dermaga Pulau Pari.

Pulau Bidadari dari kejauhan

Pulau Bidadari dari kejauhan

Tampaknya banyak sekali orang berwisata di Pulau Pari ini, yang terlihat dari 5-6 kapal kayu, plus dua Speedboat mewah yang bersandar di dermaga.

Dermaga Pulau Pari

Dermaga Pulau Pari

Setelah itu, pihak panitia pun memecah rombongan tur ke dalam beberapa kelompok penginapan. Saya dan enam rekan tur lainnya mendapatkan penginapan bernama ‘Pari House’ yang letaknya tepat di bibir pantai berpasir putih.

Pemandangan Laut Di Depan Penginapan

Pemandangan Laut Di Depan Penginapan

———————–SNORKELING————————————–SPOOKY TIME—————————————————-

Sehabis makan siang, kami pun melanjutkan tur menuju laut untuk melakukan Snorkeling. Oleh tour guide setempat, kami dibawa menuju laut dangkal yang terletak dekat Pulau Tikus untuk melakukan Snorkeling. Saya pun ber-Snorkeling ria di laut dengan rekan tur.

4dab85bb8e2ac2a2c7a6a10359e70e43_siap-siap-snorkeling

Tukang Foto: Aris Suseno

Tukang Foto: Aris Suseno

Saking bersemangatnya, kaki saya sedikit sobek karena menginjak karang indah yang hanya sekitar dua meter dari permukaan laut. Selama beberapa puluh menit saya menikmati keindahan bawah laut Jakarta, tampak beberapa ikan badut dan ikan lainnya menari-nari di dalam air.

Dian di bawah laut

Dian di bawah laut

tukang foto: Achie Ibrahim

tukang foto: Achie Ibrahim

Tapi, sekitar 20 menit kami ber-Snorkeling di dekat Pulau Tikus, terjadi hal diluar dugaan menimpa salah satu peserta tur. Spooky time…. metafisika…. (kalau Spooky Time ini akan saya ceritakan dalam postingan lainnya). Kejadian ini membuat tour guide membatalkan rencana ber-Snorkeling ke dua spot berenang lainnya.

———————————EMAK AWIYAH————————————-BBQ TIME—————————————————–

Spooky Time berlanjut hingga ke Puskesmas Pulau Pari, dan baru selesai hingga menjelang Maghrib setelah seorang penduduk setempat bernama Emak Awiyah memberikan ‘wejangan’ kepada seorang peserta tur yang mengalami hal diluar dugaan tadi.

Setelah Spooky Time berlalu, acara tur pun dilanjutkan dengan games-games menarik yang diadakan oleh panitia. Sebelum makan malam, saya sempat berkeliling dengan sepeda ke beberapa lokasi di Pulau Pari, dan ternyata banyak sekali rombongan wisatawan yang sedang menginap di Pulau Pari ini.

Seusai makan malam, di bibir pantai yang sedikit berombak, saya menikmati dengan bahagia acara BBQ Time (nama tepatnya BBHL/Bakar-Bakar Hewan Laut…hehehehe). Ikan dan Sea Food segar yang dipanggang, membuat saya lahap memakannya sambil menikmati angin laut yang membawa imajinasi berbuncah.

BBQ Time (foto: @dianred)

BBQ Time (foto: @dianred)

———————–PAGI PASIR PUTIH———————————-SEPEDA & PULAU TENGAH—————————————-

Pagi-pagi saya terbangun, dan tampak air laut surut hingga beberapa ratus meter dari bibir pantai. Spontan saya langsung beringsut menuju laut surut itu untuk bercengkerama dengan pasir putih dan beberapa biota laut yang terdampar.

Pagi di Pulau Pari

Pagi di Pulau Pari

Pagi itu bersama salah seorang peserta tur bernama Dian yang berasal dari Yogyakarta, saya menikmati indahnya panorama pagi di Pulau Pari dengan latar puluhan kapal nelayan yang bersandar. Sejauh mata memandang, terlihat lebatnya hutan Mangrove yang terletak di sisi kiri penginapan, itulah namanya Pantai Pasir Perawan yang memiliki mitos menurut warga setempat.

bercerita dengan Dian

bercerita dengan Dian

Setelah puas bercengkerama dengan pasir putih dan beberapa biota laut yang terdampar, serta bernarsis ria dengan Dian, saya lalu kembali ke penginapan untuk membuat kopi, kemudian di beranda penginapan duduk menikmati panorama laut.

Tak lama kemudian, saya membawa satu sepeda berwarna merah, dan mengayuhnya dengan tujuan mengelilingi pulau. Saya sempat mampir sebentar, ke Pantai Perawan, dan sangat ramai sekali disana orang melakukan aktifitas. Ada yang sedang senam pagi, ada yang sedang bermain voli, ada yang sedang berendam di bibir pantai, ada yang sedang asyik pacaran, dan ada juga yang sedang makan minum di beberapa warung.

Beberapa saat setelahnya, saya mengayuh sepeda ke sisi lain pulau, melewati ratusan orang yang berjalan kaki atau bersepada di jalan sempit di tengah pulau. Sekitar sepuluh menit mengayuh sepeda, saya mendapati komplek LIPI yang dibatasi dengan gerbang berwarna biru. Seorang rombongan tur saya yang sedang bersepeda keluar dari Komplek LIPI sambil lalu dengan setengah berteriak mengatakan bahwa banyak Bintang Laut berukuran besar di sana. Saya pun akhirnya masuk ke komplek LIPI.

Dan memang benar, banyak sekali Bintang Laut berukuran besar terdapat di sekitar hutan Mangrove komplek LIPI. Saya lalu mengambil beberapa foto biota laut yang terdapat disana, termasuk juga foto Bintang Laut yang sedang bermesraan..hehehe

Bintang Laut Bermesraan

Bintang Laut Bermesraan

Setelah puas bercengkerama dengan biota laut, serta mengambil foto panorama di komplek LIPI, rasa ingin tahu membawa mata saya melihat ke salah satu titik di rerimbunan pohon, dan sekilas terlihat ada bangunan indah yang tepisah air di sisi kiri lokasi saya bersepeda.

Sempat ragu, saya pun memberanikan diri menembus rimbunnya pepohonan di sisi kiri yang lokasinya hanya beberapa puluh meter dari komplek LIPI. Seseorang menyapa dan sempat membuat saya terkejut, ternyata di luar sepenglihatan saya ada seorang nelayan yang sedang duduk di perahu. Saya pun bertanya kepada nelayan itu, nama pulau yang ada di seberang, dan beliau mengatakan itu Pulau Tengah. Pak Nelayan mengatakan bahwa pengunjung Pulau Pari dilarang berkunjung ke sana tanpa ijin (setelah googling sekarang, saya pun tahu alasannya, itu pulau privat). Tapi, Pak Nelayan dengan berbaik hati selama 15-20 menit membonceng perahunya…gratisss.

———————————MELESTARIKAN MANGROVE—————PANTAI PERAWAN JAKARTA—————————

Setelah puas berperahu dengan Pak Nelayan, saya lalu kembali ke penginapan, dan beberapa rekan rombongan tur sedang makan pagi. Tak lama kemudian, panitia KemangTeer lalu mengajak rombongan tur untuk pergi bersama-sama ke Pantai Perawan dengan tujuan menanam Mangrove di sana.

Benih Mangrove Yang Siap Ditanam Di Pantai Pasir Perawan

Benih Mangrove Yang Siap Ditanam Di Pantai Pasir Perawan

Setelah membeli ratusan benih Mangrove dari warga sekitar, ketua regional KemangTeer Jakarta menjelaskan cara menanam Mangrove yang benar, serta fungsi dan faedah keberadaan Mangrove di bibir pantai.

Ketua Regional KemangTeer Jelaskan Cara Tanam Mangrrove

Ketua Regional KemangTeer Jelaskan Cara Tanam Mangrrove

Lalu dengan bersemangat kami menanam benih Mangrove di Pantai Pasir Perawan hampir sejam lebih. Bahkan beberapa teman, menamai bibit Mangrove yang baru mereka tanam di Pantai Pasir Perawan, ada yang diberi nama Dian Sastro, Juki, dan sebagainya.

Dian Sastro, Mangrove Yang Ditanam Karlina Arifazani

Dian Sastro, Mangrove Yang Ditanam Karlina Arifazani

Foto: @dianred

Foto: @dianred

01e0bd662e75c99706e4444b9fc9fed7_nanam-mangrove

Mangrove Yang Pertama Ku Tanam

Senang banget rasanya saya bisa bersedekah kepada alam (ini istilah dari salah satu peserta tur bernama Aris Suseno), bersama-sama generasi muda masa kini yang masih peduli dengan kelestarian alam.

foto: Achie Ibrahim

foto: Achie Ibrahim

Dan saya berharap kelak bisa kembali menanam Mangrove di tempat ini atau di tempat lainnya.

Monyong Ceria Sehabis Tanam Mangrove

Monyong Ceria Sehabis Tanam Mangrove

Setelah selesai menanam Mangrove di Pantai Pasir Perawan, kami pun kembali ke penginapan, lalu berkemas untuk pulang kembali ke Muara Angke.

5b56f94bd71e04f828cf659d2fc06e5d_tur-kemangteer


TAGS Kepulauan Seribu Pantai Perawan Jakarta Pulau Pari Melestarikan Mangrove KemangTEER


-

Author

Follow Me